简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Bessent Gagal Redam Yield Obligasi AS, Pasar Fokus pada Warsh di Jackson Hole
Ikhtisar:Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu mengumumkan rencana untuk setidaknya menggandakan skala buyback obligasi pemerintah AS bertenor panjang guna meredam kenaikan yield. Kebijakan tersebut sem
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu mengumumkan rencana untuk setidaknya menggandakan skala buyback obligasi pemerintah AS bertenor panjang guna meredam kenaikan yield. Kebijakan tersebut sempat menekan yield, tetapi efeknya bertahan kurang dari satu hari sebelum pasar kembali ke level tinggi.
Bessent kemudian mengatakan pasar “sedikit bereaksi berlebihan” dan menegaskan bahwa Departemen Keuangan AS masih memiliki perangkat kebijakan yang kuat. Namun, respons pasar menunjukkan tekanan belum mereda. Dolar AS melemah hampir 1% dalam sepekan, emas menembus US$4.600, sementara Bitcoin melonjak lebih dari 25%.
Charlie McElligott dari Nomura Securities menggambarkan kondisi tersebut sebagai “katup pelepas tekanan”. Ketika otoritas mencoba menstabilkan suku bunga jangka panjang, kekhawatiran investor justru beralih ke aset lain.
Kini perhatian pasar tertuju pada Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, yang dijadwalkan berpidato di Simposium Ekonomi Jackson Hole pada Jumat. Sejak menjabat pada Mei, Warsh hampir tidak memberikan forward guidance. Pernyataannya setelah pertemuan FOMC sebelumnya bahkan memicu aksi jual obligasi, membuat pasar sangat sensitif terhadap pesan yang akan disampaikannya.
Fokus utama investor adalah bagaimana The Fed akan merespons inflasi yang masih berada di atas target 2% di tengah memburuknya kondisi fiskal AS. Molly Brooks dari TD Securities memperingatkan bahwa jika Warsh tidak memberikan sinyal kebijakan baru, pasar dapat kecewa dan aksi jual obligasi jangka panjang berpotensi semakin dalam. Sementara itu, Dhiraj Narula dari HSBC menilai Warsh memiliki peluang untuk meredakan kekhawatiran pasar melalui komunikasi yang lebih jelas.
Peter Tchir dari Academy Securities mencatat bahwa pemerintah AS memiliki sekitar US$7,5 triliun T-bills dan US$21,7 triliun obligasi berbunga yang beredar. Nilai buyback per operasi dinaikkan dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar. Meski terlihat besar, jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan pasar.
Menurut Tchir, kebijakan ini bukan quantitative easing (QE), karena tidak menciptakan likuiditas baru dan pada dasarnya hanya mengubah struktur kepemilikan utang.
Di sisi lain, The Fed saat ini memegang lebih dari 50% obligasi pemerintah AS dengan jatuh tempo 10–15 tahun dan hampir 20% obligasi jangka panjang. The Fed juga memiliki sekitar US$426 miliar obligasi berbunga yang akan jatuh tempo dalam satu tahun, dengan kupon rata-rata 2,9%, lebih rendah dari effective federal funds rate sebesar 3,63%.
Situasi tersebut kembali memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan “Operation Twist”. The Fed dapat menjual obligasi jangka pendek dan membeli obligasi jangka panjang untuk menekan yield tanpa memperbesar total neraca. Langkah Bessent dinilai menyerupai versi ringan strategi tersebut, tetapi dampaknya akan terbatas tanpa dukungan The Fed.
Pasar selanjutnya menantikan data indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) AS bulan Juli yang akan dirilis Rabu. Jika inflasi tetap menunjukkan tren moderat, data tersebut dapat memberikan ruang lebih besar bagi Warsh untuk menenangkan pasar.
Michael Hartnett dari Bank of America menilai yield Treasury AS tenor 30 tahun di level 5% sebagai batas penting. Jika yield gagal turun di bawah level tersebut, tekanan terhadap dolar AS dan sektor dengan leverage tinggi dapat meningkat. Sementara itu, pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio menyarankan pengurangan eksposur obligasi serta peningkatan alokasi pada emas dan sebagian Bitcoin untuk menghadapi potensi risiko krisis utang.
Efek singkat dari buyback Bessent menunjukkan keterbatasan kebijakan Departemen Keuangan AS dalam menghadapi ketidakseimbangan struktural pasar obligasi. Kenaikan emas dan Bitcoin juga mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap depresiasi mata uang dan risiko fiskal.
Dalam jangka pendek, data PCE dan pidato Warsh di Jackson Hole akan menjadi katalis utama pasar. Kemampuan The Fed dalam mengendalikan ekspektasi inflasi dan memperjelas arah kebijakan akan menentukan pergerakan yield obligasi serta valuasi aset berisiko. Dalam jangka panjang, keberlanjutan fiskal AS, kebutuhan pembiayaan sektor AI, dan independensi The Fed tetap menjadi tantangan utama.
Peringatan Risiko: Pandangan, analisis, riset, harga, dan informasi di atas hanya merupakan komentar umum mengenai kondisi pasar dan tidak mencerminkan pandangan resmi platform ini. Setiap keputusan perdagangan merupakan tanggung jawab masing-masing investor. Harap mempertimbangkan risiko dengan cermat sebelum melakukan transaksi.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.










